Ilmu Tauhid

Didalam Islam kata tauhid merupakan kalimat yang sangat agung, bagaimana tidak, ilmu tauhid ini berisi tentang hakikat dari agama islam itu sendiri, yaitu berisi ikrar jika tidak ada yang berhak di sembah dengan benar melainkan Allah swt saja. Sehingga dengan kalimat inilah akan terbezanya antara seorang mukmin dan kafir.
Namun, sangat disayangkan dewasa ini banyak kaum muslimin, khususnya generasi muda tidak faham tentang hakikat tauhid tersebut, ertinya tidak tahu apalagi makna yang lebih mendalam yang terkandung didalam ilmu tauhid ini.
*Belajar Ilmu Tauhid
Ilmu Tauhid adalah ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap insan. Kerana ilmu ini merupakan dasar atau pokok dari syariat Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar.
Ilmu tauhid merupakan ilmu yang mempelajari tentang Pencipta makhluk dan bagaimana cara yang benar dalam beribadah kepada-Nya.
Ilmu tauhid sebagai landasan terpenting didalam agama para Rasul dan paksi utama dakwah mereka. Sehingga ilmu tauhid ini menjadi tingkatan ilmu yang paling tinggi diantara ilmu-ilmu lainnya.
Maka tidak layak kita meremehkan ilmu tauhid, kerana ilmu tauhid mempelajari tentang Pencipta diri kita dan seluruh makhluk.
Bersungguh-sungguhnya kita mempelajari ilmu tentang makhluk (Fizik, Kimia, Matematik, dan sebagainya) namun melupakan ilmu tentang Pencipta Makhluk adalah suatu bentuk kerendahan dan kehinaan yang terdapat dalam diri kita.
Adakah kita akan membiarkan diri kita berada didalam kerendahan dan kehinaan seperti itu? Maka semoga dengan Kita membaca, memahami dan mengamalkan ilmu tauhid ini, menjadikan martabat kita diangkat oleh Allah swt dari kehinaan dan kerendahan menuju martabat insan Allah swt yang paling mulia serta mengikuti seruan Nabi Muhammad saw.
Allah swt telah berfirman;
َ واَجتْنبَِوُا الطَّاغوُ ت 􁀃 ولَقَدَ بعَثَانْ فِي كلُ أُمَّةٍ رَسوُلًا أَنِ اعْبُدُوا
Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (Untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (Sahaja) dan jauhilah Thaghut (Segala sesuatu yang di ibadahi selain Allah dalam keadaan dia redha)” An-Nahl : 36
*Kenapa kita harus mempelajari ilmu tauhid?
Mempelajari ilmu tauhid merupakan kewajipan pertama atas setiap insan. Kerana dengan mempelajari ilmu tauhid kita akan tahu bahawa ternyata tauhid adalah satu-satunya batas pemisah yang membezakan antara muslim dan kafir.
Tauhid merupakan syarat diterimanya amal perbuatan di samping harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.
Maka dari itu wajib bagi kita mempelajari Ilmu Tauhid dengan benar kemudian menerapkannya dengan benar pula agar tercapailah kebahagiaan di dunia dan akhirat.
1) Pengertian Tauhid
– Tauhid Secara Bahasa
Tauhid didalam bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il (Kata tugas) wahhada-yuwahhidu-tauhiidan: (Dengan huruf ha di tasydid), yang ertinya menjadikan sesuatu menjadi satu saja.
– Tauhid Secara Istilah
Secara istilah makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususan-Nya.
Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkata;
“Makna ini tidak tepat kecuali di ikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya”.
Hal ini terkandung didalam kalimat “Laa ilaha illallahu”
*Ilmu tauhid
Penafian; Menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapapun orangnya.
Penetapan; Menetapkan hak penyembahan hanya kepada Allah.
Sehingga, Tauhid adalah konsep dalam keyakinan Islam yang menyatakan keesaan Allah. Keesaan Allah dalam perbuatan Allah (Seperti:- Allah Maha Pencipta, Allah Maha Pemberi Rezeki san lain-lain), sehingga tidak boleh ada sekutu bagi-Nya didalam perkara tersebut, keesaan Allah didalam perbuatan makhluk (Seperti ibadah atau penyembahan).
Tidak boleh ada satu pun bentuk ibadah ditujukan kepada selain Allah, dan keesaan Allah didalam Penamaan dan Pensifatan yang diberikan kepada Allah (Seperti Allah Maha Mendengar, Allah Maha Melihat, Allah Maha Mengetahui), sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah swt yang telah diberitakan melalui Al Qur’an dan Hadits Rasulullah saw.
*Keutamaan dan Manfaat Tauhid dalam Amalan
2) Perlunya Menerapkan Ilmu Tauhid dengan Benar
Tentunya kita menginginkan semua ibadah kita diterima di sisi Allah. Sedangkan tauhid adalah salah satu syarat diterimanya sebuah amalan. Kerana syirik yang merupakan lawan dari tauhid dapat menghapus semua amalan yang kita lakukan.
Maka beribadah kepada Allah swt diatas tauhid sangatlah penting dan wajib kita lakukan. Kerana semua amalan dibangun di atas tauhid. Semakin kukuh tauhid seseorang maka semakin kukuh bangunan amal tersebut berdiri.
Sekarang persiapkanlah diri anda untuk fokus pada pembahasan penting didalam ilmu tauhid ini. Kerana pembahasan ini wajib dipelajari dengan saksama dan diyakini dengan keyakinan yang benar sebelum kita beribadah kepada Allah swt.
Jangan ada satu paragraf pun tertinggal, kerana salah didalam memahami ilmu tauhid maka boleh salah didalam menerapkannya atau itikad. Sehingga menerapkan ilmu tauhid dengan benar harus dengan pemahaman yang benar. Yaitu sesuai dengan pemahaman para generasi terbaik.
*Mentauhidkan Allah swt pada perbuatan-Nya
Kita harus menyakini bahawa Allah Maha Esa didalam penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya.
Kita harus meyakini bahawa HANYA Allah lah Dzat yang satu-satunya menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezeki, mendatangkan segala manfaat dan menolak segala mudharat.
Kita harus meyakini bahawa Allah adalah Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah.
Seorang mukmin harus meyakini bahawa tidak ada seorang pun yang menandingi Allah didalam hal ini.
Maka ketika seseorang meyakini bahawa selain Allah ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, bererti orang tersebut telah menzalimi Allah swt dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya, inilah yang disebut dengan syirik.
Allah swt berfirman;
ُ أحَدَ 􁀃 قلُ ھ و ُ الصمَّدَ 􁀃 لمَ یلَِ د وَلمَ یوُل دْ
وَلمَ یكَنُْ لھَ كفُوًُ ا أحَدَ
“Katakanlah! Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1–4)
Mentauhidkan Allah swt pada perbuatan makhluk yakni setiap jenis ibadah.
Wahai insan berjiwa tenang, semoga dirahmati Allah swt, ternyata penerapan ilmu tauhid yang benar tidak cukup hanya sebatas meyakini hal itu saja, kerana sebahagian orang kafir pada zaman jahiliyah ternyata juga meyakini hal ini. Mereka tidak mengingkarinya. Mereka meyakini bahawa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah swt semata.
Mereka tidak meyakini bahawa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal tersebut. Bahkan mereka meyakini hanya Allah-lah yang Maha Pencipta dan Maha Pemberi Rezeki serta Maha Mengatur seluruh alam.
Sebagian mereka beribadah kepada patung-patung sebagai lambang orang-orang sholeh mereka, untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah swt sedekat-dekatnya.
Sebagaimana firman Allah;
یَحَكْمُ بُیَْنھَُ م 􁀃 زُِلفْ ى إِنَّ 􁀃 واَلذَّیِ ن اتخََّذوُ ا مِ ن دُونھِِ أَوْلِیَا ء مَا نَعْبُدُھُمْ إِلَّا لِیُقَرِّبوُنَا إلِىَ
فِي مَا ھمُْ فیِھِ یخَتْلَفِوُنَ
“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (Az Zumar: 3 )
Mereka juga berharap agar penyembahan mereka memberikan syafa’at (Pembelaan) untuk mereka di sisi Allah. Sebagaimana telah Allah swt firman;
ِ ِ ما لَا یضَُرُّھ م وَ لا ینَفْعَھُُ م وَیقَوُلوُ ن ھَٰؤُلَا ء شفُعَاَؤُناَ عِنْ دَ 􁀃 وَیَعْبُدُونَ مِ ن د ونِ
“Dan mereka menyembah selain Allah dari apa-apa yang tidak boleh memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka dan mereka berkata: ‘Mereka (Sesembahan itu) adalah yang memberi syafa’at kami di sisi Allah’.” (Yunus: 18)
Keyakinan sebahagian orang kafir di zaman jahiliyah ini telah Allah dijelaskan dalam beberapa firman-Nya;
فأَنَىَّٰ یؤُفْكَوُنَ ◌ ُ􁀃 وَلئَنِْ سَأَلْتَھُ م مَنْ خلَقَھَ م لیَقَوُلنُ “Kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allah.” (Az Zukhruf: 87)
فأَنَىَّٰ یؤُفْكَوُنَ ◌ ُ􁀃 وَلئَنِْ سَأَلْتَھُ م مَنْ خلَقََ السمََّاوَاتِ وَالْأرَْضَ وَسَخَّ ر الشَّمْ س وَالقْمََ ر لیَقَوُل ن
“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka akan mengatakan Allah.” ( Al Ankabut: 61)
بَلْ أكَْثرَُھمُْ لَا یعَقْلِوُ نَ ◌ ِ􀹡 ق ل الحْمَدْ ◌ ُ􁀃 وَلئَنِْ سَأَلْتَھُ م مَنْ نَزَّلَ منَِ السَّمَاءِ مَاءً فأحََاْی بِ ھ الْأَرْضَ مِنْ بَعْ د مَوْتِھَا لیَقَوُل ن
“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka akan menjawab Allah.” (Al Ankabut: 63)
Demikianlah Allah swt telah menjelaskan tentang keyakinan mereka.
Namun, keyakinan mereka yang demikian itu ternyata tidak menjadikan mereka sebagai orang Islam.
Hal ini menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga Rasulullah saw mengumumkan peperangan melawan mereka. Inilah pentingnya Ilmu Tauhid.
Oleh kerana itu, BELUM DIKATAKAN BENAR penerapan ilmu tauhid seseorang HANYA dengan Menyakini Allah Maha Esa dalam penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. Atau HANYA Menyakini Allah-lah Dzat yang satu-satunya menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezeki, mendatangkan segala manfaat dan menolak segala mudharat.
Namun WAJIB disertai dengan mengesakan segala bentuk ibadah hanya bagi Allah swt, seperti berdoa, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah saw.
*Erti Ibadah
Ibadah bila dilihat dari sisi bahasa mempunyai erti ketundukan dan kerendahan. Sedangkan menurut makna secara istilah, ibadah adalah sebutan yang menyeluruh untuk setiap apa yang dicintai Allah dan diredhai-Nya dari ucapan-ucapan dan amalan-amalan, lahir mahu pun batin.
Memperuntukkan satu saja dari jenis ibadah kepada selain Allah adalah perbuatan zalim yang terbesar di sisi-Nya kerana termasuk perbuatan syirik.
Sebagaimana Allah berfirman di dalam Al Qur’an;
إیَِّاكَ نعَْبُ دُ وَإیِاَّكَ نسَْتعَِی ن
“Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (Al Fatihah: 5)
Rasulullah saw telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam;
“Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Allah swt berfirman;
وَ لا تشُرِْكوُا بِھِ شَیْئ ا 􁀃 وَاعْبدُوُ
“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (An Nisa: 36)
Allah swt juga berfirman;
یَا أیھَُّا الناَّسُ اعْبُدُوا ر بَكَّمُ اُلذَّيِ خلَقَكَ م واَلذَّیِ ن مِ ن قبَلْكِمُ لعَلَكَّ م تتَقَّوُنَ
“Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (Al Baqarah: 21)
Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah menyebutkan bahagian dari ILMU TAUHID didalam perbuatan Makhluk terhadap Allah swt.
Dijelaskan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan sedikit pun kepada selain Allah kerana semuanya itu hanyalah milik Allah semata.
*Mantauhidkan Allah didalam Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya
Selain wajibnya mengesakan Allah didalam hal ibadah, kita juga harus beriman bahawa Allah memiliki nama-nama yang telah Allah khabarkan didalam Al Qur’an dan yang telah Rasulullah saw sampaikan dalam hadits-haditsnya.
Kita wajib beriman bahawa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati Diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya.
Allah telah mengkhabarkan bahawa Allah mempunyai nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi berdasarkan firman Allah;
اِلْأسَْمَا ء الْحُسْنَىٰ فاَدعْوُ ه بھِا 􀹡 و َِ
“Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Al A’raf: 180)
اِلْمَث ل الأْعَلْ ى 􀹡 و َِ
“Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi.” (An Nahl: 60)
Kita wajib beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang dimahukan oleh Allah dan Rasul-Nya saw dan tidak menyelewengkannya sedikit pun apalagi menolaknya.
Imam Syafi’i meletakkan kaedah dasar ketika berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagai berikut;
“Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa yang dimahukan oleh Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimahukan oleh Rasulullah”.
*Contoh penyimpangan yang sering terjadi
Berikut ini adalah sebuah kesalahan atau penyimpangan dari penerapan ilmu tauhid yang benar yang sering terjadi pada zaman ini;
Ketika seseorang mengalami musibah dan berharap boleh terlepas dari musibah tersebut. Lalu dia mendatangi makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya.
Di tempat itu ia meminta agar penghuni tempat atau sang dukun, boleh melepaskan dirinya dari musibah yang menimpa.
Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan atau thawaf bahkan bernadzar (Ini adalah salah satu bentuk ibadah), berjanji akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang.
Dengan keyakinan dan perbuatannya ini, maka dia telah terjatuh pada kesyirikan. MESKI dia meyakini Allah Maha Esa dalam penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya, Menyakini Hanya Allah lah Dzat yang satu-satunya menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezeki, mendatangkan segala manfaat dan menolak segala mudharat.
*Thawaf di Ka’bah dan mencium batu Hajar Aswad
Apakah thawaf di Ka’bah dan mencium batu Hajar Aswad bertentangan dengan ilmu tauhid?
Untuk lebih mudah memahami hal ini saya akan menceritakan sebuah kejadian.
Terjadi di sebuah majlis, salah seorang hadirin bertanya;
“Ada orang yang mengatakan bahawa agama Islam dan agama musyrikin sama saja. Buktinya, kaum musyrikin menyembah berhala-berhala dari batu, sementara kaum muslimin juga mengelilingi batu (Ka’bah) dan menciumnya (Hajar Aswad).”
Pertanyaan yang muncul dari seorang muslim ini sungguh sangat menyedihkan, inilah sebuah kenyataan pahit. Kebodohan yang telah melanda umat tentang ilmu tauhid. Banyak diantara kaum muslimin tidak boleh membezakan antara dua amalan yang secara lahiriah sama, yaitu mencium, mengusap, atau mengelilingi (Thawaf).
Perbezaan antara keduanya sebenarnya sangat jelas. Mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad diperintahkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Adapun mengelilingi kuburan para wali sama sekali tidak diperintahkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya.
Mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad tidak di iringi dengan keyakinan bahawa kedua makhluk ini memberikan manfaat atau mudarat. Berbeda halnya dengan mereka yang mengelilingi kuburan para wali.
Mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad tidak bertentangan dengan ilmu tauhid dan bukan kesyirikan, bahkan itu adalah bentuk pengAgungan dan peribadatan kepada Allah swt. Kita melakukannya semata-mata untuk melaksanakan perintah Allah swt dan Rasul-Nya bukan untuk menyembah Ka’bah dan Hajar Aswad.
Seandainya kita mengingkari perintah tersebut, niscaya kita tergolong orang yang kafir kepada Allah swt. Allah swt yang memerintahkan kita untuk mengelilingi Ka’bah. Allah swt berfirman;
وَلیْطَوََّّفوُا باِلْبیَْ ت الْعتَِی ق
“Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)” (Al Hajj 29)
*Kesimpulan
Pembahasan ilmu tauhid menrangkumi tentang mentauhidkan Allah didalam perbuatan Allah yaitu hanya Allah lah yang dapat melakukannya serta tidak boleh kita mengadakan tandingan bagi Allah dalam perbuatan-Nya.
Juga Mentauhidkan Allah didalam perbuatan makhluk Allah yaitu dalam peribadatan makhluk kepada Allah. Tidak boleh melakukan peribadatan dalam jenis ibadah apapun untuk selain Allah, baik bersamaan dengan beribadah kepada Allah ataupun tidak.
Serta mentauhidkan Allah didalam nama-nama dan sifat-Nya, menetapkannya sesuai dengan keagungan-Nya dan sesuai dengan apa yang dimahukan oleh Allah, tanpa menolaknya ataupun menyamakan dengan sifat makhluk atau menyelewengkan serta mengubah maknanya.
Demikianlah perbahasan ilmu tauhid. Semoga kita boleh mengambil manfaatnya dan mengamalkannya dengan penerapan yang benar.


# Sumber dari Syeh Haqtullah